Prinsip-prinsip keimanan yang harus diberikan kepada seorang anak muslim adalah sebagai berikut:
1. Keimanan kepada Allah Ta’ala.
Sesungguhnya kewajiban seorang pendidik yang terpenting adalah membentengi kesucian anak dari penyimpangan dan menjaga akidahnya dari kesyirikan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang mengalungkan jimat-jimat, agar si anak terbiasa bertawakal hanya kepada Allah semata. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Uqbah bin Amir yang diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lain. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ
“Barangsiapa yang mengalungkan jimat, maka Allah tidak akan mengabulkan keinginannya.”
Jika kita sudah mengetahui bahwa jimat-jimat dan meyakini kesaktian jimat tersebut merupakan perbuatan syirik, maka kita harus menjauhkan anak-anak kita dari kesyirikan ini, bahkan dari semua jenis kesyirikan walau sekecil apapun.
– Setelah itu, pendidik hendaknya berusaha mengerahkan segala potensi yang ada untuk menanamkan akidah dan keimanan kepada Allah pada diri anak.
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’id di dalam kitab Ath-Thabaqat (VIII/312) dari Ishaq bin Abdullah dari neneknya, Ummu Sulaim Radhiyallahu Anha bahwasanya ketika ia beriman dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ayah Anas baru pulang dari bepergian dan berkata, “Apakah kamu sudah pindah agama? Ummu Sulaim menjawab, “Aku tidak pindah agama, akan tetapi aku sudah beriman dengan Nabi akhir zaman ini.” Lalu Ummu Sulaim mengajarkan kepada Anas, “Ucapkan laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), ucapkan: asyhadu anna Muhammadar rasulullah (aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah).” Ayah Anas berkata kepadanya, “Jangan kamu rusak anakku!” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya aku tidak merusaknya.”
– Kita harus mengenalkan kepada anak bahwa ia adalah seorang muslim dan agamanya adalah Islam yang merupakan satu-satunya agama yang diridhai Allah Ta’ala, dan Dia tidak akan menerima agama lain selain Islam. Alangkah baiknya jika kita mengajarkan kepada anak-anak kita hadits Abu Hurairah dan hadits Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhuma yang berisi tentang rukun Islam dan rukun iman, yaitu ketika Jibril Alaihissalam mengajukan beberapa pertanyaan kepada Nabi Al-Amin Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang Islam, iman dan ihsan serta tanda-tanda hari kiamat.
– Memfokuskan tarbiyah untuk mencintai secara umum, seperti disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu mencintai Allah yang telah mencurahkan banyak kebaikan kepada para hamba-Nya. Pada prinsipnya tidak ada seorang pun yang mengingkari tentang kecintaan ini.Sebab tabiat hati manusia suka kepada orang yang berbuat baik kepada dirinya.Allah Ta’ala telah menciptakan kita, memberikan rezeki dan juga berbagai kenikmatan yang tidak terhitung jumlahnya. Seharusnya kita sering mengingatkan kepada anak-anak kita bahwa apa saja yang ia sukai merupakan pemberian dan anugerah yang diberikan Allah kepada dirinya. Jika hal ini kita lakukan, maka anak-anak kita akan tumbuh di atas kecintaan kepada Allah yang telah menciptakannya.
Demikianlah kita terus berusaha menanamkan kekuatan agama yang berlandaskan kecintaan kepada Allah Ta’ala, dengan cara lebih menekankan makna kecintaan, harapan dan memperlihatkan bukti-bukti rahmat Allah yang amat luas kepada seluruh umat manusia.
– Membiasakan anak-anak untuk menghormati setiap perintah Allah Ta’ala dan mengikatnya dengan hukum-hukum agama Allah. Jika mereka tumbuh dewasa dengan kebiasaan ini, maka ia akan menjadi seorang pemuda yang diridhai Allah Ta’ala yang tidak mengetahui agama dan manhaj selain agama dan manhaj Islam.
– Kita tanamkan kepada mereka bahwa Allah Ta’ala sangat mencintai kita dan Dia tidak akan memerintahkan kepada seseorang kecuali apa yang sesuai dengan kesanggupannya. Oleh karena itu, jika kita diperintahkan untuk melakukan sesuatu, maka kita wajib untuk melaksanakannya sesuai dengan kemampuan kita.Adapun perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah, mutlak tidak boleh kita dekati.
– Kita tegaskan kepada mereka bahwasanya Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang menaati-Nya, akan menjaga dan menolong mereka serta melipat gandakan pahala kebaikan yang mereka lakukan, memiminalkan kesalahan dan mengampuni dosa. Dia tidak suka terhadap orang-orang yang kafir, tidak mengacuhkan dan tidak merahmati mereka. Demikian juga Allah Ta’alaakan mengokohkan keimanan orang-orang yang menaati-Nya dalam menghadapi kejadian-kejadian yang akan mereka hadapi di hari kiamat nanti.
– Kita tumbuhkan pada diri dan hati mereka rasa solidaritas terhadap saudara-saudara mereka seiman, jalinan ikatan Islam dan berlepas diri dari orang-orang kafir yang merupakan musuh-musuh agama Allah. Inilah tujuan pendidikan agama yang pertama dan terpenting.
Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
– Kita juga menceritakan kepada mereka tentang malaikat yang wajib untuk diimani dan diyakini keberadaannya. Di samping itu, juga meyakini bahwa malaikat adalah hamba Allah yang mulia, diciptakan dari cahaya, senantiasa bertasbih di siang dan malam hari tanpa pernah merasa jemu, mereka selalu takut kepada Allah dan sifat-sifat serta keistimewaan malaikat lainnya yang mudah dicerna oleh akal fikiran mereka.
– Kita juga menceritakan kepada mereka tentang kisah para rasul utusan Allah yang wajib untuk diimani dan dihormati, tidak boleh mengistimewakan sebagian dan mengecilkan (meremehkan) yang lain serta menjelaskan keyakinan-keyakinan ahli sunnah wal jamaa’ah lainnya yang sesuai dengan kapasitas daya nalar mereka. Seseorang tidak akan pernah celaka jika ia telah mendapatkan petunjuk dan terus mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam memberikan pendidikan, terlebih lagi didukung oleh fitrah yang sudah ada di dalam jiwa mereka. Fitrah ini dapat anda lihat ketika seorang anak memberikan isyarat ke atas yang menunjukkan ke-Maha Tinggi-an Allah Ta’ala dan firman-Nya yang menunjukkan keridhaan dan kemurkaan-Nya.Dengan demikianlah bahwa Allah Ta’ala bertindak adil terhadap orang-orang yang terzalimi.Tidak ada wasiat yang lebih baik dari pada wasiat Luqman kepada anaknya yang disebutkan oleh Allah di dalam Kitab-Nya.
2. Membiasakan anak-anak agar senantiasa mencintai dan menghormati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh umat manusia.”
Hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Ketika Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari semuanya kecuali diriku.” Lantas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di tanngan-Nya, sampai engkau mencintai diriku lebih dari pada cintamu terhadap dirimu sendiri.” Kemudian Umar kembali berkata, “Sekarang aku lebih mencintaimu melebihi kecintaanku terhadap diriku sendiri.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sekarang baru benar imanmu wahai Umar.” (HR. Al-Bukhari)
– Kita harus menjelaskan kepada anak-anak tentang beberapa karakter baik yang kita ambil dari sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seperti kasih sayang terhadap anakanak kecil, terhadap hewan dan pembantu. Kita ceritakan kepada mereka kisah-kisah yang membuat mereka cinta terhadap sejarah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sejarah para sahabat beliau yang mulia. Tujuannya agar mereka berakhlak seperti akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, seperti kasih sayangnya terhadap anak-anak dan orang-orang lemah serta tidak menyakiti hewan.
– Ketika kita memberikan pendidikan kepada anak-anak, kita tanamkan pada diri mereka agar mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai aplikasi agama islam, baik dalam tingkahlaku, akhlak dan ibadah. Ini kita lakukan agar hal itu berbekas pada diri mereka dan mendorong hati mereka untuk mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam serta mencintai risalahnya. Karena di dalam perkara tersebut terdapat ampunan dari Allah dan anugerah surga yang penuh kenikmatan.
Allah Ta’ala berfirman,
“Katakanlah: ”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Seorang pendidik hendaknya mengajarkan anak-anaknya ucapan shalawat ibrahimiyah dan menyuruhnya untuk menghafal jika si anak sanggup untuk menghafalnya serta memberikan dorongan kepada mereka agar memperbanyak mengucapkan shalawat. Mengucapkan shalawat terhadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dapat mengangkat derajat dan berhak mendapatkan syafaat dari Beliau. Orang bakhil adalah orang yang tidak mengucapkan shalawat ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam disebutkan. Tidak diragukan lagi bahwasanya mengagungkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengajarkan anak tentang adab-adab beliau akan memberikan kesan khusus di hati si anak sehingga si anak akan terbiasa menjaga akhlaknya sesuai dengan sunnah beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah mereka nanti beranjak dewasa, mereka sudah memiliki perasaan hormat terhadap sunnah-sunnah beliau sekaligus mengikuti langkah-langkah beliau.
3. Beriman kepada takdir. Kita harus menanamkan akidah, yaitu keimanan terhadap takdir kepada si anak sejak usia dini. Tujuannya agar mereka faham bahwa umur mereka sangat terbatas dan rezeki pun terbatas, sehingga ia tidak mohon pertolongan kecuali kepada Allah Ta’ala semata. Demikian juga agar mereka dapat memahami bahwasanya manusia tidak dapat merubah takdir yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya,
“Katakanlah:”Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. …” (QS. At-Taubah: 51)
Kedua orang tua bertanggung jawab untuk memahamkan perkara qadha‘ dan qadar kepada mereka dengan pemahaman yang benar. Tujuannya agar hati mereka tenang dan rela menerima ketetapan Allah Ta’ala, sehingga tidak dihantui rasa takut dan waswas terhadap masa depannya. Karena mereka tahu bahwa Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengatahui, tidak ada satu perkara pun yang berasal dari Allah kecuali berdasarkan Hikmah dan Ilmu-Nya, sehingga si anak terjauh dari perasaan takut dan was-was yang akan lebih memperkuat kesabarannya dalam menghadapi cobaan dan musibah yang menimpa keluarga.
-Di antara perkara yang harus ditanamkan ke dalam hati si anak adalah perkara kematian yang juga ada kaitannya dengan masalah qadha‘ dan qadar. Biasanya seorang anak takut kepada kematian karena mereka menyaksikan sendiri bagaimana kesedihan dan rasa kehilangan yang dialami keluarga jika salah seorang kerabat atau tetangga ada yang meninggal dunia. Mungkin dapat lebih menenangkan hati mereka dengan cara memberitahukan bahwa akan lebih baik jika mereka meninggal dalam usia yang masih kecil ini. Karena seorang yang meninggal sewaktu kecil akan dimasukkan ke dalam surga bersama ayahnya Ibrahim Alaihissalaam. Kemudian penjelasan tersebut dibantu dengan menceritakan kisah-kisah yang banyak dibukukan oleh para penulis terpercaya.
– Penekanan pemahaman tentang masalah qadha dan qadar ini juga dapat mengurangi perasaan rendah diri karena cacat fisik yang menimpa dirinya, seperti pincang, atau ada anggota badan yang patah, atau rupa yang buruk dan lain-lain. Jelaskan kepada mereka ini semua sudah menjadi qadha dan takdir yang telah ditetapkan Allah Ta’ala. Jika ia sabar dan rela menerimanya maka Allah akan memberinya pahala yang besar dan memasukkannya ke dalam surga. Lalu jelaskan juga kepadanya tentang kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada dirinya, seperti kecerdasan, kepintaran dan kemampuannya yang mudah menghafal dan kelebihan-kelebihan lainnya. – Di antara perkara yang berkaitan dengan qadha dan takdir Allah, seperti malapetaka, bencana alam, peperangan dan lain- lain. Agar si anak memahaminya bahwa hal itu terjadi karena sudah menjadi kehendak dan takdir Allah Ta’ala, mungkin sebagai hukuman terhadap para pelaku maksiat atau sebagai cobaan bagi orang-orang mukmin untuk mengangkat derajat dan menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka. Semua kejadian itu sudah menjadi kehendak Allah dan pasti dibalik itu semua terkandung hikmah yang dalam.Namun terkadang hikmah tersebut hanya diketahui oleh sebahagian orang.



